Jumat, 24 Januari 2020

Arwah Noni Belanda Itu Bernama Angela


Arwah Noni Belanda Itu Bernama Angela

Angela
Bab 1 Proyek

Pagi yang menyenangkan, begitulah yang ku rasa jika mendapat tugas memompa adrenalin ke suatu daerah yang masih perawan, setidaknya aku bisa mengganti udara di paru-paru dengan yang lebih fresh, karena hutan berdaun lebat tentu lebih banyak memproduksi oxigent dibandingkan Kota.

Kembali kubaca peta wilayah, kelengkapan dan alat yang menjadi bagian tanggung jawabku di selembar kertas yang kemarin diterima Lana dari Hanan, teman satu Teamku.

Semua kebutuhan, seperti selimut, senter, obat-obatan, pakaian untuk tiga hari manggung, maksudnya nggunung masuk secara teratur kedalam ransel dengan panjang tujuh puluh sentimeter dan berkapasitas dua ratus kilogram.

Lana tidak banyak bicara, kalau saat repot seperti ini dia ngusik sudah barang tentu dia ku lumat. Lana sepertinya penasaran, berapa kali dia berusaha mengajak ku bicara, menanyakan kemana tujuan Timku kali ini.

“Boleh Lana Lihat peta nya, Mbak?” 
“Nih ....” 
Mata Lana membulat, jemarinya mengitari gambar yang tidak begitu besar di kertas. Aku tidak terlalu peduli, karena masih sibuk menata barang yang akan dibawa.

“Mba May, jangan kesana!” Lana menatap lekat.
“Tapi kenapa, Dek?”
“Seminggu yang lalu teman Lana kesurupan, dia kejang-kejang, trus dia ngigau mau bunuh orang yang nginjek anaknya, kejadiannya di daerah itu, Mba.” Lana terlihat serius, wajahnya memucat. Kembali dia baca nama tempat yang tertera di peta.
“Alah yang gitu-gitu ngga usah di percaya, dek.” Rambut Lana ku acak, berlalu sembari menenteng ransel persiapan bedah wilayah peninggalan Belanda, tak lupa mencium pipi adik kesayanganku yang masih cemberut.
“Beneran, Mbak.” Lana melotot.
“Makanya inget Tuhan, kalau fikiran kosong ya gampang Si Jinni masuk.” Aku ngeloyor, Lana mengejar ke pintu dan berteriak.
“Mbak ... banyak-banyak baca ayat kursi ya ....” Lambaian tangan dan secuil senyum kemudian menghilang dibalik pagar, aku tau Lana pasti masih berdiri di pintu dengan wajah masam.

Kali ini Team Jelajah Alam besutan Bang Akmal harus melakukan perjalanan sesuai petunjuk dipeta, melewati hutan dan jembatan usang, yang bertujuan untuk mencari makam lama peninggalan Belanda yang bernilai sejarah. Dalam berapa kali proyek pencarian situs budaya, team kami selalu membawa kesuksesan, sehingga kami diminta kembali melaksanakan proyek serupa.

Butuh waktu seminggu, begitu pendapat sebagian anggota yang terdiri dari empat orang perempuan dan lima orang cowo kece yang masih jomblowan sejati, dalam satu Team Rimba tidak boleh pacaran, begitu aturannya. Takut nanti di hutan salah langkah, yang namanya rimba belantara pasti dihuni makhluk tak kasat mata, jadi No buat cinta-cintaan.

Team kami memang sering dipakai untuk bedah wilayah, apalagi sebagian anggota team merupakan mahasiwa jurusan sejarah dan geologi, dalam sebuah Team yang terpenting anggotanya memiliki semangat dan tidak gampang menyerah.

Pernah sekali kami harus berada di hutan belantara hampir sebulan, untuk sebuah proyek penemuan bekas permukiman masyarakat di perbatasan Sumpur Kudus dengan Riau. Alhamdulillah sukses walau pulang dalam keadaan kurus dan letih, bagi kami tidak mengapa ceking yang penting kerja berhasil.

Biasanya Lana tidak pernah ngeyel, beda dengan keberangkatan kali ini.
“May, lo kenapa?, kusut gitu. Kurang doping kali... nih ada telor bebek, bikin teh telor dulu biar fit.” Hanan menepuk bahu kemudian duduk disamping ku.
“Apaan, Sih. Sono duduk, jangan dekat-dekat. Kagak muhrim,” ujarku sambil mengulum senyum, dasar playboy cap kampak.
“Alah, secuil aja kagak nempel.” balas Hanan merungut. Wajahnya terlihat lucu, dengan mulut memble. 


Arwah Noni Belanda Itu Bernama Angela
Beberapa kursi bambu tersusun rapi di bawah pondok, ya ... tempat ini adalah yang paling nyaman di posko TJA, bahkan sudah menjadi rumah kedua bagi anggota team. Selain itu juga, disini kami sering melahirkan ide-ide kreatif seperti lukisan dan literasi bersama. Jadi jangan kaget kalau dinding yang terbuat dari bambu banyak ditempeli lukisan dan karya sastra yang ditulis di pelepah kayu atau daun kering.

Aku masih asik menikmati gambar-gambar yang terpajang di dinding luar posko, Hanan yang yang duduk di sampingku juga sama, hingga akhirnya dia terbahak. 
“Noh, liat. Foto kamu saat di Rantih Sawahlunto, culun amat, ya.”
“Lo, juga, tuh. Rambut berdiri gitu, apa ngga ada yang cakepin dikit buat di pajang.” Timpalku meledek.

“May ... kompas, senter, korek api dan P3K, ready?” Aku mengangguk tanpa melihat Bang Akmal yang ternyata telah berdiri di samping ku.
“Berarti bisa berangkat sekarang?” Bang Akmal sudah siap dengan ransel dan jaket yang melilit pinggang.
Semua mengangguk, selesai berdoa perjalanan dimulai, sebuah petualangan yang akan menguras energi tapi mendatangkan ketenangan. Ya... kami begitu nyaman berada di rimba.

Berapa nyanyian mengalun, yel-yel tanda kebersamaan bersahutan dengan derum mesin Mobil Grand Max metalic yang kami pakai sebagai transportasi. Melintasi lembah di kaki bukit yang berjejer rapi itu sesuatu banget, aku, Ana, Danu, Laila dan Hanan serta Anti duduk dibelakang. Sementara Bang Akmal, Anja dan Anto didepan.

Terpaan angin terasa sejuk di badan, karena kami tidak terhalang box. Duduk di mobil terbuka merupakan hal yang luar biasa menyenangkan bagi petualang seperti kami.
Mobil terasa lamban melaju, ketika membelah perbukitan dengan jalan tanah berbatu. Sesekali kami harus turun mendorong mobil, karena roda turun dari jalan akibat licin.

Berat memang, lelah tentunya. Tapi ini adalah dunia kami, dunia dengan segala keistimewaan, dimana alam mengajarkan kami saling menghargai, saling membantu dan saling mengingatkan, bahwa alam dan isinya adalah ciptaan Yang Maha Kuasa, dan kami hanya setitik noktah.

Untuk mencapai lokasi pencarian, kami harus jalan kaki sejauh lima kilo meter. Karena tidak bisa dilewati kendaraan. Jadi mobil terpaksa diparkir agak jauh dari lokasi.

“Sepertinya, di sini aman.” Bang Akmal turun dari mobil, setelah meminggirkan mobil di padang rumput yang dipenuhi perdu berduri. 

Daerah ini terpencil, sangat jauh dari pemukiman dan sepertinya jarang dilalui manusia, terlihat dari semak dan akar yang sudah menjalar dan menghambat jalan setapak yang akan kami lewati. 

Bang Akmal sebagai penunjuk jalan berada paling depan, sementara kami yang perempuan berada di tengah barisan. Begitulah setiap kali melakukan petualangan, anggota laki-laki akan melindungi dan mengapit perempuan depan dan belakang, biar aman katanya.

“May, Gua liat dari tadi lo banyak diem nya ... kenapa emangnya?,” Ana memecah kebisuan, saat dia membanting naik ke batu besar yang menghambat langkah. Ku coba mengatur nafas yang semakin memburu karena baru saja melewati pendakian yang lumayan tinggi.
“Ngga kenapa-napa.” Nafas masih tersengal, mau bicara jujur takut di cemooh. Walau sebenarnya aku ingin menceritakan apa yang disampaikan Lana tadi pagi sebelum berangkat, tentang temannya yang kesurupan. 
“Kalo PMS dilarang masuk hutan, May,” Hanan cekikikan, dasar tukang nguping. Lelaki itu berdiri sejajar dengan aku dan Ana, yang sedang mengumpulkan energi.

Dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di dataran berumput hijau yang sangat luas, kata bang Akmal lima ratus meter lagi kami akan menemukan sungai yang dilintasi jembatan kayu, begitu yang tergambar di peta.

Sejenak kami melepaskan lelah di pinggir padang rumput, di sini banyak ilalang liar yang berbunga. Aku suka ilalang, apalagi ketika bunganya di terbangkan angin, seperti mandi salju. 
“Hei, dalam hutan, dilarang melamun. Bisa kesambet kamu.” Laila menepuk bahuku dari belakang.
“Hei ... dengar, suara air mengalir.” Suara Anto membuat semua terdiam, fokus mendengarkan gemericik air yang datang dari lembah bagian selatan.
Yang paling membuat aku nyaman berada di hutan belantara seperti ini, adalah udaranya yang masih bersih. Sehingga udara yang masuk ke paru-paru akan lebih bermanfaat bagi tubuh, setidaknya bisa membuat pernafasan terasa longgar dan tubuh kembali segar.

Bukan hanya aku yang menikmati sensasi udara dengan aroma pohon, yang lain juga. Buktinya mereka asyik menghirup udara dengan mata terpejam. Aku dan Ana duduk berdampingan, sementara Hanan duduk di batu besar yang ditumbuhi lumut menyerupai kepala manusia.

“Istirahat yang cukup, biar nyambung.” Seloroh Bang Akmal, ku lihat dia sering mencuri pandang ke arahku sambil mengulum senyum. Atau memang aku yang kurang memperhatikannya, selama ini?

Darahku berdesir setiap kali mata kami beradu dalam sebuah tatapan, aku menunduk sedang Bang Akmal tersenyum jengah. Entah kenapa aku merasa lelaki itu lebih menawan dari biasa.

Melihat alis bang Akmal bertaut, memicingkan mata, kemudian menghempaskan nafas. Duniaku seperti bewarna jingga, ah andai saja lelaki itu mau menjadi bagian jiwaku. 

“Woi ....” Aku tersentak, Hanan melempar ranting kering ke kakiku yang terunjur. 
“Dasar culun.” Balas ku sewot.
Terdengar kekehan tawa yang lain, saat mukaku merah, ternyata mereka memperhatikan gerak-gerikku dan Bang Akmal.

Oh ...
Pengagum cinta, biarkan aku mengenalmu dalam hijaunya dunia, dan biarkan rasa ini tetap ada, meski mulut enggan bicara. Karena hati tau siapa pemilik rasa yang sama.

Senyumku mengembang, begitu juga Bang Akmal. Mata kami saling bertatapan, melewati berapa pasang mata yang menatap heran.




MISTERI Kuntilanak Tanpa Kepala & Teriakan Aneh Terekam Kamera !! Tanjakan Silayur

Dulu, rimbunnya pepohonan membawa daya tarik tersendiri bagi para pengunjung hutan wisata Silayur pada 1950 hingga 1980-an. Kemolekan tubuh bukit Silayur menjadi pemandangan yang memanjakan mata di sepanjang jalan. Memuaskan bagi hasrat semua orang yang hendak membuang sebagian waktunya sekedar untuk menghirup udara segar dan menjamah kehijauan daun-daun yang menghiasinya. Jalan yang menghubungkan Boja-Semarang tersebut memiliki medan yang cukup menguras konsentrasi.

Pengemudi yang melintas di jalur itu akan berhadapan dengan landasan pacu beraspal yang meliuk-liuk.  Ditemani jurang yang cukup dalam di samping kanan dan kiri. Silayur merupakan daerah yang memiliki lintasan menanjak dan turunan curam. Jalan yang memiliki julukan Jalur tengkorak tersebut merupakan bukit yang ketinggiannya sekitar 700 meter di atas permukaan laut.
Jika tidak terbiasa, tentu ada banyak resiko yang bisa saja muncul. Misalkan saja, kendaraan yang malah berjalan mundur hingga rem menjadi terlalu panas dan menjadi blong. Jalur pegunungan yang satu ini akan memaksa mobil untuk bekerja lebih keras dari medan yang biasanya, terlebih saat tanjakan.

 
Jalan menanjak dan menurun dengan badan jalan yang tidak terlalu lebar membuat setiap pengendara yang lalu lalang tiap harinya harus meningkatkan kewaspadaan.


Seiring waktu berjalan, hutan Silayur yang ada di wilayah Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan itu perlahan tapi pasti terus berubah. Sekitar pada tahun 1970an, para pengembang perumahan mulai melirik kawasan itu sebagai permukiman. Dibangunlah Perumahan Pandana Merdeka pada 1988 dan perumahan Esperanza pada 2005. Alat berat menyayat-nyayat tanah, membunuhi satu demi satu pohon, hingga memenggal bukit yang menjadi nyawa daerah itu. Hutan seluas 7 hektar habis di babat mesin-mesin pemusnah. Hanya pilu yang tersisa.


Mereka mengepras sebagian bukit dan tegalan milik warga yang ditanami pohon-pohon keras, seperti jambu, mahoni, dan kluwih. Keindahan bukit yang dulu memikat dan mempesona, kini disulap menjadi kawasan perumahan elit yang mempertontonkan keangkuhan bangunan-bangunan menjulang. Dengan mengorbankan keihlasan alam yang senantiasa memberikan anugerah bagi kehidupan makhluk di sekitarnya.


Mitos dan Tragedi


Terlepas dari semua keindahan yang ditawarkan Silayur dan peralihannya dari kawasan perbukitan menjadi perumahan elit. Kawasan bukit Silayur juga menyimpan banyak tragedi dan kisah-kisah misteri. Suasana Kuburan yang terletak di sisi timur jalan silayur ini, menambah kesan angker jalur itu.

Bukit Silayur yang ada di wilayah Kelurahan Bringin itu telah menjadi saksi bisu terjadinya ratusan kasus kecelakaan. Sebagian kalangan lalu mengaitkan rangkaian kecelakaan di salah satu titik rawan Kota Semarang itu dengan hal-hal gaib.



Siang itu, Senin, (7/8), udara sangat panas, debu yang beterbangan mengelilingi tiap pengendara motor yang melintas. Berada di samping jalur Silayur berdiri bangunan rumah milik sesepuh Silayur diantara rumah warga setempat.

Adalah Kasdiyanto (55), warga dukuh Duwet gang Bendo RT 1 RW 4 yang menjadi sesepuh di Desa Silayur menceritakan kisah-kisah yang ada disana. Pemilik rumah sederhana berpagar papan ini, sudah tinggal bertahun-tahun di daerah yang menjadi saksi bisu terbunuhnya Ranem yang melegenda.


Ditemui di rumahnya bapak berkumis yang memiliki banyak pohon mangga di sekitar rumahnya itu mengakui sosok hantu wanita tanpa kepala sering muncul di turunan Jalan Silayur Ngaliyan Semarang. Selain itu, ada juga kisah mbah Tumpuk yang menurut Kasdi adalah orang pertama yang membuka lahan di bukit Silayur.


Kasdiyanto melanjutkan, pada tahun 40-70an ada kebiasaan nyeleneh yang di lakukan para warga maupun pengguna jalan yang melewati jalur Silayur. Sejumlah pengendara yang melintas melemparkan uang atau hasil bumi seperti jagung, beras, kacang dan lain sebagainya kesekitar jalan raya. Ritual ini bertujuan agar mereka selamat ketika melintas. Warga setempat mengambil uang maupun hasil bumi yang dilemparkan setiap orang yang lewat.

“Hal semacam itu sangat lumrah terjadi disini, hingga akhirnya kebiasaan tersebut dilarang oleh lurah pada waktu itu,” kata Kasdiyanto.


Ditemani ember berisi air serta gerinda tua yang sudah nampak tipis, dia melanjutkan ceritanya, “Jika ada warga baru yang ingin membuka usaha atau lain-lain harus meminta izin terlebih dahulu kepada warga setempat dan harus melakukan ritual selamatan dengan mengundang minimal enam warga setempat. Tidak diketahui mengapa jumlah warga yang di panggil minimal harus sejumlah itu,” lanjut dia.


Jalan Prof Hamka atau dikenal dengan jalan Silayur selama ini oleh warga sekitar disebut sebagai jalur tengkorak. Dulu jalan yang menghubungkan antara Boja-Semarang ini merupakan hutan dan pekuburan. Pada masa kecil Kasdiyanto jalan yang membelah Bukit Silayur itu hanya memiliki lebar sekitar lima meter. Kini mulai diperlebar 26 meter mengikuti lebar jalan yang sudah ada.


“Ada bukit Gumping sebelum jalan diperlebar seperti sekarang, bukit itu dulu menghalangi jalan hingga kemudian di kepras menggunakan bighu,” tutur Kasdiyanto menceritakan, sesekali lelaki betubuh sedang itu mengalirkan air ke mata pisau, sambil meneruskan kembali ceritanya.


Ada mitos yang mengaitkan bahwa setiap kecelakaan yang terjadi di jalur maut itu berkaitan dengan kecelakaan yang terjadi di jalur yang ada di wilayah Gombel. Bapak berusia sekitar 65 tahun ini mengatakan, bahwa setiap ada kecelakaan di Gombel, maka hampir dipastikan di Silayur akan terjadi kecelakaan.



Sudah belasan tahun terjadi. Entah itu selang satu atau dua hari kemudian. Seperti menjadi sebuah pertanda, bahwa dulu antara Gombel dan Silayur memiliki semacam hubungan gaib. Namun hal itu masih menjadi misteri hingga sekarang, karena masih belum diketahui secara pasti mitos tersebut.


Dulu ada kecelakaan di Gombel, selang beberapa hari kemudian sebuah truk yang mengalami rem blong terguling di Silayur.

”Kondisi truk mengenaskan, hanya tersisa as roda truk saja. Kejadian tersebut menewaskan 3 orang. Dua anak sopir truk dan kernetnya," kenang Kasdiyanto, sembari sesekali mengusap rambut tipisnya yang telah beruban.


Banyaknya berbagai kejadian yang terjadi di daerah tersebut menurut penuturan masyarakat dikarenakan sosok pocong, macan tunggo, ular piton, kuntilanak berkeliaran setiap malam jumat.


Masih banyak lagi kejadian aneh yang dituturkan oleh masyarakat. Secara logika sehat seakan perkembangan zaman sekarang tidaklah mungkin karena buka zamannya lagi berbauh mistis. Tetapi, tidak dipungkiri bahwa adat dan pengakuan masyarakat membenarkan akan tersebut.

Wahana Taman BermainTerbengkalai Wonderia

Menengok Sisa-Sisa Kenangan dan sejarah singkat Taman Bermain Wonderia

Taman Bermain Wonderia pertama kali buka pada tahun 2007. Nggak main yang meresmikan ini adalah Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Awal mula dibuka tempat ini menyedot banyak animo masyarakat Semarang dan di luar Semarang. Ditambah lokasinya yang strategis di jantung kota, kala itu Wonderia menjadi tempat yang tepat untuk membuat akhir pekan semua orang gembira.

Wonderia memiliki 16 wahana bermain Typhoon, Merry Go Round, Boom Boom Car, Coaster, Super Rally, Kiddy Boat, dan Space Gyro. Nggak hanya itu, ada juga wahana memacu adrenalin orang dewasa seperti Rumah Hantu.

Namun sayang, ada hal buruk yang nggak bisa dilupakan dari tempat wisata ini. Sekitar bulan November 2007, Wonderia sempat ditutup karena tragedi kasus kecelakaan. Setelah itu dibuka kembali pada April 2008. Selain itu banyak juga desas-desus miring mengenai tempat ini. Misalnya, ada yang berkata kalau ada hantu beneran di wahana Rumah Hantu. Hii, serem ya, Millens.

Nggak adanya peremajaan alat-alat baru menjadi salah satu hal yang mengawali segala keterpurukannya. Kemudian, bedasarkan yang tercatat di Koran Tempo edaran 17 Februari 2017 silam, Pemerintah Kota Semarang menutup tempat wisata yang selama ini dikelola oleh PT Semarang Arsana Rekreasi Trusta (SMART) ini. Penyebabnya, tunggakan utang yang mencapai Rp 3,1 milliar.

Terbengkalai

Rasanya nggak berlebihan jika Taman Bermain Wonderia disebut kota mati. Dibiarkan begitu saja terbengkalai dan hampir di semua tempat ditumbuhi semak belukar serta pepohonan yang tinggi. Di sela-selanya masih berdiri dengan lapuk bekas-bekas wahana yang ditinggalkan begitu saja. Foto-foto di artikel ini merupakan gambaran terbaru


SEMARANG !! we need your support !!! please subscribe lurr


Sejarah Wahana Terbengkalai Wonderia Dan Challange Petak Umpet


Run Hunter Adalah kami yang sangat menyukai tentang hal - hal berbau horror dan Channel ini merupakan dokumentasi kami saat explore dan semoga dengan hobi kami yang aneh ini dapat menghibur kalian yaa ,

mohon maaf jika ada salah kata maupun perilaku yang crew kami perbuat , terima kasih


Follow Fanspage FB : 
https://www.facebook.com/runhunteroff...

Follow instagram      :https://instagram.com/runhunterofficial

CONTENT : Explore , Penampakan , Challenge , misteri , uji nyali , run

TAGS : mahluk gaib, pocong, hantu, kuntilanak , penampakan, uji nyali, explore, horror, mistis, misteri,wonderia 




Misteri Kuntilanak Pabrik Karet Tengah Hutan Semarang

SEMARANG – Bangunan tua memang selalu identik dengan hal yang berbau mistis. Seperti bangunan pabrik karet peninggalan Belanda milik PT. Karya Deka Alam Lestari, di kawasan Jatisari Mijen Semarang.


Di bangunan yang sudah ada sejak tahun 1928 tersebut, banyak sekali menyimpan cerita seram yang sampai sekarang masih membuat merinding karyawan pabrik hingga warga sekitar yang melintasi kawasan tersebut.


Karyawan pabrik, Amin Siswoto (40) mengatakan, banyak kejadian menyeramkan yang terjadi di kawasan pabrik. Seperti kemunculan misterius anak kecil yang bermain di dalam pabrik, hingga hidup dengan sendirinya mesin penggiling.


“Yang paling sering muncul itu kuntilanak. Tapi hanya muncul waktu petang dan malam hari, kalau siang jarang terlihat, ” tuturnya kepadametrosemarang.com Jumat (21/11).


Hal senada juga diungkapkan satpam pabrik, Budi Hermansyah (28). Menurutnya sosok hantu kuntilanak penunggu pabrik memang sudah tak asing lagi di telinganya. “Dia itu suka usil. Kadang pas tiduran saya suka di dorong-dorong. Bahkan kadang dia suka duduk-duduk ngelihatin saya saja lama banget,” ucapnya seraya menunjukan lokasi tempat si kunti muncul.

Selain cerita Kunti tersebut, masih banyak cerita mistis lainnya, seperti kemunculan binatang aneh jenis kelabang yang berukuran besar dan suara-suara tangis. Kendati demikian, saat pagi dan siang hari, kawasan tersebut merupakan kawasan yang cukup menyenangkan untuk dikunjungi, selain udara sejuk dan hamparan perkebunan karet, eksotisme bangunan belanda juga menjadi pemandangan yang tak kalah menarik.