Pada masa penjajahan, Jember bukanlah kabupaten yang secara administratif langsung berada di bawah Provinsi, melainkan secara administratif berada dalam cakupan wilayah karesidenan (Regentschappen). Karesidenan merupakan wilayah administratif di era kolonial yang dikepalai oleh seorang residen dan merupakan bagian dari provinsi atau gubernemen. Sebuah karesidenan terdiri dari beberapa wilayah Kabupaten. Pada masa itu, wilayah Kabupaten Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi merupakan wilayah administratif Karesidenan Besuki. Saat masih tergabung dalam wilayah Karesidenan Besuki, Jember merupakan kawasan hinterland atau kawasan subur yang berfungsi sebagai pemasok bahan makanan pokok dan komoditas ekspor bagi kawasan pusat kota. Sedangkan yang saat itu menjadi kawasan pusat administrasi (politik) pemerintahan dan kegiatan ekonomi di Karesidenan Besuki adalah Situbondo yang kondisi tanahnya kurang subur. Perlu diingat bahwa wilayah eks-Karesidenan Besuki tidaklah identik dengan wilayah Tapal Kuda. Istilah yang disebut terakhir meliputi 4 Kabupaten Karesidenan Besuki ditambah dengan dua kabupaten eks-Karesidenan Malang, yakni Kabupaten Lumajang dan Probolinggo.
Kelahiran Kabupaten Jember, begitu juga Kabupaten Situbondo dan Bondowoso, merupakan pemekaran dari wilayah Karesidenan Besuki yang merupakan Kota tertua dibelahan timur Jawa Timur. hal itulah yang membuat penelusuran sejarah Kabupaten Jember tentu tidak lepas dari pembahasan Sejarah Karesidenan Besuki. Artikel ini akan sedikit memberikan paparan selayang pandang napak tilas masa lalu dan peninggalan sejarah Karesidenan Besuki.Babad Alas BesukiSebagai warga eks-Karesidenan Besuki tentu kita harus tahu sejarah awal Besuki. Sejarah tersebut dimulai pada tahun 1743 M, dengan kisah hijrah Kyai Abdurrahman Wirobroto dari kawasan yang kini menjadi Desa Tanjung, Kecamatan Pademawu, Pamekasan yang kala itu mengalami kekeringan panjang untuk mencari area baru yang subur untuk bercocok tanam. Sumber sejarah menyatakan bahwa ayahnya bernama Raden Abdullah Surowikromo, yang merupakan saudara dari Raden Zaenal Abidin alias Susuhunan Pakubuwono II. Sumber lain justru menyatakan bahwa Raden Abdullah Surowikromo justru merupakan putra dari Pakubuwono II. Singkat cerita, Kyai Abdurrahman Wirobroto sampai di daerah ujung timur Jawa, kemudian membuka lahan yang kala itu masih berupa hutan belantara, untuk dijadikan tempat bercocok tanam. Wilayah tersebut ternyata memiliki tanah yang subur, sehingga apa yang ditanam olehnya dapat tumbuh dengan baik. Hal tersebut membuat Kyai Abdurrahman memutuskan kembali ke Pamekasan untuk menjemput keluarganya beserta sekitar 20 keluarga lainnya untuk berhijrah ke wilayah baru tersebut. Karena belum memiliki nama, wilayah itu kemudian dinamai Nambekor, berasal dari kata “Nambeg” yang artinya “Berlabuh”. Kini wilayah tersebut kita jumpai dengan nama Demung, salah satu desa yang terdapat di wilayah Kecamatan Besuki Kabupaten Situbondo. yuk kunjungi blogku...Setelah perpindahan Kyai Abdurrahman Wirobroto bersama sanak kerabatnya, Nambekor berubah menjadi Kedemangan dengan Kyai Abdurrahman Wirobroto sebagai demangnya. Setelah lanjut usia, jabatan demang digantikan oleh anaknya, yakni Raden Bagus Kasim, sedangkan ia sendiri pada tahun 1760 kembali ke kampung halamannya dan meninggal di sana. Setelah diangkat menjadi demang, Raden Bagus Kasim tinggal di sebuah rumah yang juga ia pergunakan untuk menjalankan roda pemerintahan sebagai demang sekaligus di rumah itu pula ia melakukan pertemuan-pertemuan dengan warga masyarakatnya. Rumah yang dikenal dengan sebutan Dalem Tengah tersebut kini masih bisa dijumpai sebagai salah satu peninggalan sejarah Besuki. Letaknya ada di Jl. Wirobroto, sebelah utara alun-alun Besuki, tepatnya berada di gang masuk deretan toko-toko kawasan pecinan.
Asal-Usul Nama BesukiSaat Bagus Kasim menjadi Demang, wilayah Nambekor berkembang menjadi ramai. Hal ini membuat Tumenggung Joyolelono, penguasa Wilayah Banger/Probolinggo kala itu memberikan gelar Wirodipuro kepada Raden Bagus Kasim. Wirodipuro artinya adalah orang yang membuka lahan. Sedangkan nama Nambekor sebagai sebuah kademangan diubah menjadi Kademangan Besuki. Adapun mengenai asal kata “Besuki”, satu sumber sejarah menyatakan bahwa kata tersebut terambil dari nama Han Soe Kie, seorang saudagar kaya raya Cina keturunan Dinasti Han yang sangat berpengaruh kala itu, yang juga merupakan seorang muslim. Dia adalah mertua dari Raden Tumenggung Moh Ali Prawirodiningrat, yang lebih dikenal dengan nama Pengeran Kolonel. Adapun Pangeran Kolonel adalah putra dari Raden Asiruddin atau Pangeran Notokusumo I, Bupati Sumenep kala itu. Han Soe Kie amat dihormati oleh masyarakat sekitar, mereka memanggilnya dengan Babah Soe Kie atau Bah Soe Kie. Panggilan tersebut dalam logat pribumi kerap bergeser menjadi Basuki atau Besuki. Sementara pendapat lain menyatakan bahwa kata “Besuki” diduga berasal dari Bahasa Jerman yakni kata “Besuchen” atau “Besuch” yang artinya membesuk atau menjenguk. Hal ini karena banyak juga tentara Belanda di sana kala itu yang berasal dari Jerman.yuk kunjungi blogkuPada tahun 1764, Kademangan Besuki naik status dari kedemangan menjadi wilayah setingkat kabupaten. Dengan kenaikan status itu wilayah ini, Raden Bagus Kasim Wirodipuro juga dilantik menjadi Patih Kadipaten Besuki. Karena nasabnya yang bersambung dengan trah keluarga Keraton Solo, tidak heran jika Raden Bagus Kasim Wirodipuro mampu fasih berbahasa Jawa tinggi/Jawa halus. Hal ini membuat Raden Bagus Kasim Wirodipuro berikutnya terkenal dengan sebutan “Ki Patih Alus”, atau “Ke Pate Alos” dalam Bahasa Madura. Setelah Ki Pate Alos meninggal, pemerintahan Kabupaten Besuki diteruskan oleh anaknya, yaitu Raden Sahiruddin Wiroastro yang bergelar Wirodipuro II. Ki Pate Alos maupun Raden Sahiruddin dimakamkan di Kauman Barat atau Kampung Arab Besuki. Makam itu kini pada hari-hari tertentu banyak dikunjungi orang untuk ziarah. Pada setiap malam jumat, bahkan diadakan istighasah yang diikuti oleh ratusan jamaah. Selain itu, sejarah Ke Pate Alos sebagai tokoh pembabat alas besuki juga diabadikan sebagai ikon Kabupaten Budaya Kabupaten yang dilestarikan lewat momen tahunan yang dikemas dalam rangkaian “Situbondo Culture Festival” yang digelar di Alun-Alun Besuki. Dalam rangkaian Situbondo Culture Festival, selain terdapat Festival Pentas Budaya Ki Pate Alos, terdapat pula Pasar Rakyat Aneka Kuliner, Festival Maulid Nabi, hiburan panggung Islami, serta Pentas seni dan budaya.Komplek Bangunan Bersejarah di sekitar Alun-Alun BesukiDi pusat Kecamatan Besuki Situbondo anda dapat menemui alun-alun luas yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Besuki di masa silam. Namun sayangnya dokumen sejarah tidak mencatat peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah yang berkaitan dengan alun-alun ini. Besuki Di sebelah selatan alun-alun Besuki, di sudut antara Jalan Ijen dan Jalan Raya Besuki, terdapat bekas kantor kewedanan yang sejak tahun 2008 difungsikan menjadi SMA Negeri 1 Besuki. Bangunan dan struktur lamanya adalah berupa bagian yang sekarang digunakan sebagai kantor, pendopo, serta gapura. Sebelum difungsikan sebagai SMA, bangunan ini sempat kosong. Tidak jauh dari SMA, tepatnya di Jalan Raya Ringgit No. 3, terdapat sisa bangunan yang dulunya merupakan asrama kepolisian yang masih satu komplek dengan kantor kawedanan. Bangunan itu sejak tahun 2015 difungsikan sebagai SMP 3 Besuki setelah sebelumnya sempat kosong. Bangunan tua itu sekarang menjadi mushala, ruang gamelan di sebelah kanan (timur) dan ruang keterampilan yang di sebelah kiri (barat). Kemudian masih tidak jauh dari alun-alun, tepatnya di Jalan Tanjung No. 1, terdapat sisa bangunan yang dulunya adalah SR (Sekolah Rakyat) Putra. Bangunan yang telah ada sejak tahun 1852 itu kini menjadi SDN I Besuki. Sementara bangunan kuno bekas kantor karesidenan yang ada di sebelah timur kantor Polsek, nasibnya sempat sangat memprihatinkan. Selain merupakan kantor karesidenan, bangunan yang didirikan sekitar tahun 1803 itu juga merupakan rumah tempat tinggal Residen Besuki. Lantainya yang dulunya terbuat dari marmer Italia kini telah raib tak bersisa. Karena telah lama kosong dan tak terawat, kini menjadi sarang kelelawar. Bangunan itu tampak lapuk, sebagian besar diantaranya bahkan mengalami kerusakan yang cukup parah. Tahun ini bangunan bergaya campuran Eropa dan China ini telah selesai dipugar, rencananya akan difungsikan sebagai Museum Residen Besuki.Sebelah barat Alun-Alun Besuki, Jl. Imam Bonjol terdapat Masjid Jami’ Baiturrahman. Keberadaan Masjid ini berawal dari berdirinya menara pantau atau menara lonceng yang pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Belanda sebagai sarana untuk memantau wilayah sekitar Besuki. Selain itu, menara tersebut berfungsi sebagai sarana menunjukkan waktu dan arah bagi masyarakat Besuki. Pengesahan Besuki sebagai sebuah kadipaten baru menyaratkan terbangunnya beberapa infrastruktur pendukung di pusat kota, diantaranya: kantor pemerintahan, alun-alun, pasar, dan tempat ibadah. Konsep tata kota yang demikian, membuat menara pantau yang keberadaannya berada di sebelah barat Alun-Alun Kota Besuki beralih fungsi menjadi menara masjid.
Adapun pembangunan Masjidnya, justru belakangan, yakni sekitar tahun 1805, berselang tidak lama dengan pembangunan gedung keresidenan dan kewedanan Besuki. Sumber sejarah menyatakan pembangunan-pembangunan itu dilakukan ketika Besuki dipimpin oleh seorang Ronggo bernama Suro Adiwijoyo, yang merupakan seorang Cina muslim. Pendapat lain menyatakan bahwa penguasa Besuki ketika itu adalah Poerwo Adiwijoyo. Pada tahun 2009, masjid ini dipugar, menara masjid yang sebenarnya hanya terdiri dua tingkat ditambah menjadi empat tingkat. Meskipun demikian, pemugaran tersebut tidak merubah dinding dan bentuk menara di tingkat satu dan dua. Menara ini sekarang difungsikan sebagai menara pengeras suara, dan sebagai ruangan kontrol.
EpilogMungkin tidak banyak yang tahu, bahwa dalam satu scene sejarahnya, Kadipaten Besuki pernah menjadi jaminan gadai. Pada tahun 1770-an, Belanda membutuhkan uang dalam jumlah banyak sehingga menggadaikan wilayah Besuki kepada seorang saudagar Cina muslim di Surabaya yang bernama Han Boei Sing. Ia mengangkat seorang wali dengan pangkat Ronggo di Besuki, hal itu berlanjut hingga sekitar enam Ronggo. Namun justru pada rentang masa pemerintahan para ronggo inilah, pembangunan beberapa item penting di pusat pemerintahan Kadipaten Besuki seperti gedung keresidenan dan kewedanan Besuki serta Masjid Jami’ Baiturrahman dilakukan. Hal itu terjadi tepatnya pada sekitaran tahun 1805, ketika Besuki dipimpin oleh seorang Ronggo bernama Suro Adiwijoyo, yang merupakan seorang Cina muslim. Besuki kemudian ditebus kembali oleh Gubernur Jenderal Raffles pada tahun 1813 senilai 618.720 Gulden. Ketika Indonesia awal merdeka, keberadaan wilayah administratif karesidenan ini masih dipertahankan. Baru sejak tahun 1950-an, wilayah administratif karesidenan dihapus, berikutnya wilayah kabupaten di bawahnya, langsung berada di bawah cakupan wilayah administratif provinsi. Yang tersisa dari sistem karesidenan adalah sistem kode nomor kendaraan bermotor, kendaraan bermotor di wilayah eks-Karesidenan Besuki menggunakan kode plat nomor “P”. Adapun Besuki kini turun tingkat menjadi salah satu kecamatan di Kabupaten Situbondo. Masih ada banyak hal berkaitan dengan sejarah Karesidenan Besuki yang tidak semua bisa penulis kupas sekaligus dalam artikel lainnya. Mungkin dalam kesempatan lain penulis akan kupas hal-hal itu dalam artikel lainnya.
Kemenyan disebut juga Frankincense, Olibanum, Salai guggal, atau Boswellia serrata tentu sudah tidak asing lagi bagi kita, terutama para penghayat kebudayaan lokal. Sebuah benda berbentuk kristal keruh berwarna coklat maupun putih yang biasa di bakar mengiringi ritual ritual baik personal ataupun umum. Banyak sekali pertanyaan maupun anggapan bahwa kemenyan adalah sebuah benda yang sangat terkait dengan mistik, digunakan untuk memberi makan demit, untuk campuran rokok lintingan, maupun pewangi ruangan. Benarkah fungsi dari kemenyan hanya sebatas itu? mari kita kupas lebih dalam tentang kemenyan ini, baik dari sumber sumber luar maupun dari hasil pengalaman para sesepuh sesepuh semua.=============================Bila anda mengenal Teratai yg daun dan bunganya tidak kotor walaupun tumbuh dikolam lumpur. Pohon Kemenyan dikenal karna dapat hidup dilingkungan yg tak masuk akal. Kemenyan dapat tumbuh/hidup diatas batu padat & angin kencang. Karna kondisi tumbuh yg berupa padang pasir dgn angin kencang, kemenyan juga memiliki akar membesar utk daya cengkramnya bila badai angin tiba. Kalau tanaman biasa tidak kering ya udah terbang dihembus angin. Tanaman lain tidak memiliki keunggulan kemampuan ini. Dan dari getah yg dihasilkan pohon kemenyan ini memiliki wangin yg tiada tandingannya.Pohon Kemenyan (Styrax benzoin) dapat tumbuh di lingkungan yang keras. Kemenyan tumbuh di daerah yang sangat kering dan sangat cocok untuk tanah kapur tinggi dan rendah nutrisi. Bahkan di atas batu pun tanaman ini bisa tumbuh. Sebagai contoh, di Somalia, tanaman ini tidak tumbuh di atas tanah di atas tapi di atas batu marmer. Pohon kemenyan beradaptasi dengan lingkungan keras dengan cara menggugurkan daunnya. Sebagaimana diketahui, Kemenyan dimanfaatkan getahnya. Cara menyadap getah Kemenyan mirip dengan menyadap getah pohon karet atau getah pohon pinus. Getah dihasilkan dari pemotongan pada kulit pohon. Getah mengeras dikumpulkan dan digunakan sebagai kemenyan dan mur. Hasil sadapan kemenyan ini diperdagangkan sejak ribuan tahun lalu, bahkan bukti arkelogis menunjukkan dalam makam Tutankhamun raja Mesir kuno yang meninggal pada 1323 SM juga ditemukan kemenyan. Perdagangan kemenyan terbesar terjadi di kawasan Arab. Ketika itu, nilai jual Kemenyan menyamai emas. Di Indonesia, penghasil pohon kemenyan terbesar adalah di Sumatera Utara. Kemenyan dimanfaatkan untuk bumbu rokok dan aroma terapi. Kemenyan juga banyak digunakan dalam ritual keagamaan dan pengobatan.Kemenyan dalam PengobatanPohon kemenyan atau pohon Boswellia, ditemukan terutama di India. Pohon Boswellia adalah pohon balsamic yang mengeluarkan oleoresins aromatik yang dikumpulkan dari luka kulitnya pohon, saat kering menjadi permen karet. Dalam teks-teks kuno medis Ayurvedic dari India, eksudat bergetah dari Boswellia dikelompokkan dengan resin karet lainnya dan secara keseluruhan disebut GUGUL.Permen karet-resin dilaporkan untuk memiliki, obat penenang dan aktivitas analgesik. Bila seluruh lemaknya dihilangkan ekstrak eksudat permen karet (oleo-gum-resin) ditemukan memiliki aktivitas anti-inflamasi dan anti-rematik ditandai terhadap arthritis ajuvan pada hewan percobaan dan bebas dari racun atau efek samping lainnya. Hal ini juga ditunjukkan untuk memiliki ditandai menurunkan kolesterol dan trigliserida aktivitas. Uji klinis pada pasien rematik telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. asam Boswellic terisolasi dari getah menghambat, dalam konsentrasi dengan cara bergantung, pembentukan produk 5-lipoxygenase dengan IC50 1,5? M. studi toksisitas kronis di monyet sehat mengungkapkan bahwa obat itu tidak memiliki bio-kimia, dan lain toksisitas hematologi.permen karet ini dikreditkan dengan zat, stimulan, ekspektoran, diuretik, yg mengeluarkan keringat, antipuretic, emmenagogue obat perut, ecbolic dan sifat antiseptik. Hal ini dilaporkan berguna dalam borok, tumor, gondok, payudara cystic, diare, disentri, tumpukan, asma, bronkitis, laringitis kronis, penyakit kuning, sifilis dan penyakit kulit. Hal ini digunakan dalam penyusunan sebuah salep untuk luka dan digunakan dengan mentega di sifilis. Permen karet-resin adalah zat, anti-menurunkan suhu badan, antidysentry, ekspektoran, diaphosetic, diuretik, obat perut, emmenagogue. Hal ini berguna dalam demam, diaphoresis, kejang, disentri, urethrorrhea, orchiopathy, bronkitis, asma, batuk, stomatitis, penyakit sifilis, radang tenggorokan kronis, penyakit kuning dan arthritis.Boswellic asam adalah agen-agen anti-inflamasi dan anti-rematik yang efektif, baik untuk osteoarthritis dan rheumatoid arthritis, rematik jaringan lunak, dan nyeri pinggang. Mereka juga membantu mengendalikan berlebihan lipid darah tinggi dan atherosclerosis, dan melindungi hati terhadap endotoksin bakteri-galactosamine. Bagian non-asam dari permen karet itu telah sakit-relieving dan kualitas obat penenang, dan dalam dosis tinggi dapat menurunkan tekanan darah, dan mengurangi denyut jantung pada anjing, melainkan peningkatan dalam katak. Manfaat yang diamati Boswellia termasuk pengurangan mobilitas sendi bengkak, meningkat, steroid hemat tindakan (kurang steroid dibutuhkan dalam kombinasi perlakuan), kekakuan pagi kurang, kekuatan cengkeraman ditingkatkan, dan peningkatan umum dalam kualitas hidup, baik untuk osteoarthritis dan rheumatoid arthritis.- Pachnanda et al., Ind J. Pharmacol., 1981; 13: 63.- The Wealth Asia, PID, CSIR, 1996, New Delhi.
Keris Pusaka dapur Panji Anom sekilas mirip dapur Keris Jalak Sangu Tumpeng, ya... ! Perbedaannya hanya pada hiasan buntut gonjo atau greneng saja. Memiliki filosofi yang dalam dan menyejukan, Panji Anom yang berarti Kesatria yang memiliki keunggulan dalam segala hal, juga selalu memiliki semangat laksana jiwa muda selalu menyertainya dalam melaksanakan amanah.
CARA ORANG JAWA MENGHORMATI SAYYIDINA HUSEIN=================================Ada seseorang cucu bertanya: "Mbah, kenapa dlm budaya Jawa pada bulan Suro (Muharram) gak boleh mengadakan pesta hajatan.!? Apakah gara² Nyai Roro Kidul setiap bulan Suro mantu.!?" (hajatan kemanten)Bukan,, bukan gara² itu nak..Orang Jawa itu unik dan punya tradisi/budaya dlm setiap menghormati sebuah peristiwa. Jadi gak ada kaitannya dgn Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan di pulau Jawa..Pada jaman kerajaan Singosari, dan Majapahit masih belum ada kepercayaan adanya Nyi Roro Kidul/Ratu Pantai Selatan. Tapi munculnya Kisah tersebut pada jaman kerajaan Islam Mataram. Jadi sama sekali gak ada kaitannya tentang pelarangan membuat pesta hajatan pernikahan dgn Nyi Roro Kidul/Ratu Pantai Selatan.”Kwmudian cucu tsb bertanya lagi: "Trus, apa alasannya mbah, kok org² Jawa itu gak mau mengadakan Hajatan Pernikahan dlm bulan Suro/Muharrom mbah.!?"Begini nak,, Ong Jawa itu sangat menghormati Kanjeng Nabi saw dan keluarganya. Pada tgl 10 Muharrom cucu Kanjeng Nabi Saw yg bernama Sayyidina Husein (orang Jawa menyebutnya Kusen), dibantai dan disembelih di tanah Karbala..Kemudiam kepala Cucu Kanjeng Nabi saw tsb ditancapkan ke tombak dan diarak dari Karbala menuju Kufah kemudian diarak lagi menuju istana Yazid bin Muawiyyah..Sisa-sisa keluarga Kanjeng Nabi saw yg selamat tsb membuat tradisi menganjurkan setiap bulan Muharrom dijadikan bulan duka cita, sehingga mereka tdk mengadakan pesta hajatan, dalam rangka mengenang tragedi kematian leluhurnya Sayidina Husein dan keluarganya..Tradisi tsb dibawa oleh para penyebar agama Islam ke pulau Jawa yg kebanyakan masih keturunan Kanjeng Nabi Saw, dan tradisi tsb diterima dan dikembangkan dgn pemahaman org Jawa yaitu dgn membuat simbol dgn Bubur Suro. Adapun warna putih melambangkan Sayyidina Hasan dan merah melambangkan Sayyidina Husain sebagai simbol ntk mengenang cucu Kanjeng Nabi saw..Cucu tsb berkata: "Ternyata begitu asal usulnya ya mbah.?? Trus apa kaitannya dlm bulan Suro/Muharrom ini org Jawa dianjurkan laku prihatin dan mencuci keris dan pusaka lainnya yg dimiliki mbah.!?"Begini nak,, Org Jawa itu sangat arif dan bijaksana.. Stiap tradisi pasti ada maksud dan tujuannya.Kenapa dianjurkan laku prihatin dlm bulan Suro.!? Agar kita paham bhwa dlm bulan Suro itu keluarga Kanjeng Nabi saw menderita, Sayyidina Husein dipenggal kepalanya, sedangkan rombongan wanitanya diarak, dilempari, diludahi, dicaci dan dihina. Mulai dari tanah Karbala menuju kantor Gubenur di Kufah Irak, lalu menuju ke Istana Yazid di Syam.Jadi bulan Muharrom itu bulan duka citanya keluarga Kanjeng Nabi Saw. Dan sbgai bentuk penghormatan, biasanya org Jawa itu emoh/gak mau membuat pesta hajatan di bulan Suro ini ntk menghargai dan menghormati keluarga Kanjeng Nabi Saw..Adapun tradisi mencuci keris dan pusaka lainnya, itu juga sama mempunyai simbol, makna dan pesan bhwa seakan-akan persiapan mau perang melawan musuh..Hal ini agar kita ingat dgn peristiwa Sayyidina Husein dan beberapa sahabat dan kerabatnya yg masih anak-anak dgn gigihnya melawan musuh-musuhnya, sehingga mereka semuanya terbunuh menjadi Syahid di Karbala.Itulah cara org Jawa menghormati Sayyidina Husein. Org Jawa itu gak paham apa itu Sunni apa itu Syi’ah. Yang dipikir org Jawa adlah kok ada org yg mengaku Islam, pengikut Kanjeng Nabi Muhammad Saw, tapi justru anak keturunan Nabinya dibantai dan dihinakan.Andaikata Sayyidina Husein dulu hidupnya di Jawa, maka org Jawa akan memuliakan dan menghormatinya. Oleh krn itu stiap bulan Suro/Muharrom, org Jawa membuat Jenang Kasan dan Kusen (Hasan dan Husein)..
Karena terjadi salah kaprah dan sudah beredar luas dimana lagu campursari Nurhana(tentang seseorang yang dimabuk asmara) yang dikatakan lagu lingsir wengi asli, saya memiliki beberapa referensi dimana setiap liriknya berbeda, dan keduanya merupakan tembang macapat asli, Konon kedua lirik macapat dibawah dapat digunakan sebagai tolak balak karena memiliki energi magis, bisa dilihat dari translate nya.. Lirik lagu Lingsir Wengi (Macapat) Lingsir Wengi Sliramu tumeking sirna Ojo tangi, nggonmu guling Awas jo ngetoro Aku lagi bang, wingo wingoJin setan kang tak utusi Dadio sembarang Wojo lelayu sebet Artinya : Tengah Malam Bayangmu semakin sirna Jangan bangun tempatmu dibawah Jangan memperlihatkan diri Aku sedang gelisah Jin setan yang kuperitahkan Jadilah semau mu Namun jangan menimbulkan petakaLirik Rumeksa Ing Wengi :Ana kidung rumeksa ing wengiTeguh hayu luputa ing LaraLuputa bilahi kabehJim setan datan purunPaneluhan tan ana waniMiwah panggawe alaGunaning wong luputGeni atemahan tirtaMaling adoh tan ana ngarah ing mamiGuna duduk pan sirnaSakehing lara pan samya baliSakeh ngama pan sami mirudaWelas asih panduluneSakehing braja luputKadi kapuk tibaning wesiSakehing wisa tawa
Sato galak tututKayu aeng lemah sangarSonging landhak guwaning wongLemah miring myang pakiponing merakPagupakaning warak sakalirNadyan arca myang segara asatTemahan rahayu kabehApan sarira ayuIngideran kang widadariRineksa malaekat lan sagung pra RasulPinayungan ing Hyang SuksmaAti Adam Utekku Baginda EsisPangucapku ya MusaNapasku Nabi Ngisa linuwihNabi Yakup PamiyarsaningwangDawud Suwaraku mangkeNabi Ibrahim NyawakuNabi Sleman Kasekten mamiNabi Yusup Rupeng wangEdris ing RambutkuBaginda Ngali kuliting wangAbubakar Getih daging ngumar singgihBalung Baginda NgusmanSungsumingsun Patimah linuwihSiti Aminah Bayuning AnggaAyup ing Ususku mangkeNabi Nuh ing JejantungNabi Yunus ing Otot mamiNetraku ya MuhammadPamuluku RasulPinayungan Adam Kawa, sampun pepak sakatahe para Nabi dadya sarira TunggalTerjemahan dalam bahasa indonesia :Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat. guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku. Segala bahaya akan lenyap.Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku nabi Sis. Ucapanku adalah nabi Musa.Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakup pendenganranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi sulaiman menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku, Nabi Idris menjadi rupaku. Ali sebagai kulitku. Abubakar darahku dan Umar dagingku. Sedangkan Usman sebagai tulangku.Sumsum ku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti fatimah sebagai kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada didalam ususku. Nabi Nuh didalam jantungku. Nabi Yunus didalam otakku. Mataku ialah Nabi Muhamad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.Sumber: -Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga-Filsafat Sunan Kalijaga